KISAH FYNN JAMAL, ARJUNA DAN AUTISME…

Fynn Jamal, saya kira meletop secara tiba-tiba. Beliau betul-betul meletop dan terkenal apabila mula berhijab. Lagu Arjuna Beta menjadi bualan secara meluas.

Fynn Jamal ternyata lebih cantik apabila mula berhijab

Namun, mungkin sudah ada yang mengenali beliau dan mengikuti perkembangan beliau sejak dulu lagi. Fynn Jamal atau nama sebenarnya Nur Affina Yanti Jamalludin merupakan guru bahasa Inggeris di Kazakhstan selama hampir 3 tahun dan merupakan pemegang ijazah Sastera dan Lingusitik Inggeris daripada UIA.

Beliau begitu lantang menyuarakan pendapat di media sosial dan amat disenangi ramai dek kerana sentiasa memperjuangkan hak-hak mereka yang kurang bernasib baik, terutamanya wanita dan kanak-kanak.

Mungkin tidak asing lagi lagu Arjuna Beta yang Fynn Jamal tujukan buat anak angkatnya Arjuna. Sebak dengar lagu ni bila diteliti liriknya. Bagi saya, suara Fynn Jamal biasa-biasa sahaja, tetapi lagu dan lirik ciptaannya ternyata sangat unik dan lain daripada yang lain.

Arjuna dilahirkan dengan masalah jantung, namun selepas pembedahan dia kini pulih sepenuhnya.

Tapi, bila Juna makin besar, Fynn mula melihat ada ‘kelainan’ pada Juna. Juna telah dibawa menjalani pemeriksaan dan hasil ujian pakar mengesahkan Juna penghidap autisme kategori mild. Antara ciri-ciri yang ditunjukkan oleh Juna adalah seperti:

Suka menyusun blok kayu dan dia akan marah apabila blok kayu tersebut diganggu susunannya;
Bila disepahkan, dia akan menyusunnya semula;
Tidak pernah memberikan eye contact mahupun sebarang tindak balas apabila namanya dipanggil;

Nasihat Fynn Jamal kepada ibu bapa yang mempunyai anak-anak autisme:

“Buat ibu bapa yang mempunyai anak autisme dan sebagainya, pertamanya perlu banyakbersabar dan ingat selalu anak-anak kita ni bukan consciously pilih untuk reject didikan dia. 
 
Mereka memang tak mampu untuk daftar input tertentu sebab otak mereka yang sangat selektif. 
 
Sebagai contoh, kalau otak dia memang otak ilmu fizik, tunjuklah panda gemuk ke paintball paling canggih ke memang dia tak ambil perhatian. 
 
Perlahan-lahan kayuh
 
Kalau kita kuat semangat, dari Perlis ke KLCC naik basikal pun akan sampai. 
 
Cuma lambat atau cepat. 
 
Usah risau hidup ini bukan pertandingan.
 
Apa yang penting sebagai ibu bapa dengan anak autistik, jangan cepat putus asa kalau anak kita tak masuk ajar sekuat mana pun kita mencuba.”

Mendalam nasihat Fynn Jamal ni, saya sangat sukakan ayatnya “hidup ini bukan pertandingan”.

Insyaallah, walaupun anak-anak saya tiada yang autisme, tapi nasihat ini juga terpakai untuk saya yang juga bergelar seorang ibu. Tanggungjawab saya besar untuk mencorakkan keperibadian dan hala tuju kehidupan anak-anak.

Hidup ini bukan pertandingan.

It’s okay kalau anak kita masih tidak tahu membaca pada umur 5 tahun di kala rakan-rakannya yang lain telah pandai membaca. Jangan dipaksa anak itu. Sedih saya mendengar kisah kawan saya yang telahpun menghantar anak ke kelas tuisyen seawal umur 5 tahun semata-mata kerana beliau lambat membaca.

Yang penting, kita tahu apa yang kita nak design anak kita untuk masa depannya, di dunia dan di akhirat.

Sebelum mengundur diri, jom dengarkan lagu Warkah Arjuna (Arjuna Beta).

Saya suka.

 

KISAH MENYAYAT HATI: INGATLAH ORANG TUA YANG RELA BERKORBAN APA SAJA DEMI MEMBESARKANMU

Sebuah kisah membuat hati setiap anak akan merasakan kesedihan karena kelakuannya terhadap orang tua sendiri.

Ada seorang pria tua yang sudah berumur memutuskan tinggal bersama dengan anak laki-laki sulungnya. Anaknya tersebut sudah menikah dan mempunyai anak berusia lima tahun. Pria tua tersebut karena sudah faktor usia, tangannya sering gemetaran, penglihatan sudah semakin kabur, jalannya sudah tidak kuat seperti dahulu.

Suatu malam, saat sedang makan malam bersama keluarga anaknya, pria tua tersebut menjatuhkan gelas susunya sehingga membuat meja makan menjadi sedikit berantakan. Selain gelas susu, ia juga kesulitan makan karena tangannya sering gemetaran dan saat makan sedikit berantakan.

Apa yang terjadi ?
Menantu dan anak lelaki kandungannya agak merasa jengkel akibat kejadian tersebut. Anak lelakinya berkata kepada istrinya ‘Karena kejadian tersebut kita harus melakukan sesuatu terhadap ayah .’

Dan istrinya menjawab,

‘Kita tidak punya stok susu yang banyak untuk selalu ditumpahkan. Ayah juga sering berisik saat makan. Aku capek membersihkan makanan yang berserakan dilantai seusai makan’.

Dicapailah kesepakatan antara istri dan anak lelaki kakek tersebut
Mereka akhirnya membuat sebuah meja makan yang kecil dan menempatkan disudut ruangan tidak jauh dengan ruang makan keluarga. Selain itu mereka berdua menyediakan gelas plastik, piring plastik untuk orang tuanya. Hal ini dilakukan agar saat gelas jatuh tidak pecah.

Hari demi berhari berlalu dimana orang tua mereka menghabiskan waktu untuk makan di meja kecil tersebut dengan diwaktu bersamaan anak, menantu dan cucunya makan di meja utama keluarga.

Suatu waktu ketika makan malam, menantu dan anaknya melihat orang tua mereka sedang makan. Terlihat jelas pria tua tersebut sedang kesedihan. Namun, apa yang terjadi. Anak lelakinya berucap, tidak ada lagi gelas dan piring yang jatuh dan pecah.

Malampun telah larut. Disaat siang hari pada saat jam istirahat kerja, anak lelaki pria tua tersebut pulang dari kantor dan didapati anaknya sendiri sedang sibuk bermain dengan mainan kebanyakan dari plastic seperti gelas, piring, sendok dan lain-lain. Ia pun bertanya, Nak senang mainnya, apa yang sedang kamu kerjakan ?

Anak kecil 5 tahun merupakan cucu dari pria tua tersebut menjawab dengan polos. ‘Piring sama gelasnya aku siapin dan berikan untuk papa dan mama saat aku sudah besar nanti.’

Mendengar kata-kata dari anaknya sendiri, begitu menghujam pria tersebut. Ia begitu sedih karena merasa bersalah kepada Ayahnya dan ia pun menangis. Mulai hari itu, meja kecil untuk ayahnya disimpan. Kemudian ia bersama istrinya meminta maaf kepada ayahnya karena memperlakukannya seperti orang lain di rumah mereka.

Sejak hari itu, ayahnya sudah berkumpul dan makan bersama di meja makan keluarga. Bahkan ketika ayahnya menjatuhkan sendok, gelas sesekali atau makanan yang berserakan ia langsung membersihkan sendiri.

Sahabat, jadikanlah gambaran kisah tersebut sebagai renungan bagi pribadi sendiri. Adalah sudah kewajiban setiap anak untuk memperlakukan orang tuanya baik Ibu atau Ayah dengan baik saat mereka berusia lanjut. Ingatlah, saat kita masih kecil orang tua kita dengan tulus menjaga, merawat, memberi perhatian bahkan rela bertaruh nyawa demi anaknya tercinta. Maka, janganlah sama sekali membuat hati orang tua bersedih karena perbuatan kita.

Ya Allah, ampunilah kami karena telah lalai menjaga kedua orang tua kami, Ya  Allah sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami disaat kami kecil. Amin. Semoga bermanfaat, jazakumullah.

Sumber: renunganislam.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here